Diceritakan pada zaman dahulu kala ada orang Hindu yang bernama Raden Ajisaka. Raden Ajisaka beliau seorang pangeran (anak raja), yang hobbynya mencari ilmu dan menolong rakyat yang sedang menderita/sengsara, oleh karena itu beliau sering berkelana. Ajisaka mempunyai abdi atau pembantu dua orang, yang bernama Dora dan Sembada, mereka sangat setia pada tuannya, kemanapun Raden Ajisaka pergi pasti mereka mengikutinya sesampainya ditanah Jawa di salahsatu pulau yang bernama Majethi, mereka beristirahat untuk sementara.
Raden Ajisaka meneruskan perjalanannya, tetapi salah satu abdi Raden Ajisaka yang bernama Sembada tidak diperbolehkan untuk mengikuti beliau, Sembada diberi tugas oleh Raden Ajisaka untuk menjaga keris pusaka, Raden Ajisaka berpesan kepada beliau pesannya berbunyi “ mbuh kapan bae sing arep njukut keris iku mung Raden Ajisaka (dalam bahasa Indonesia : Entah kapan Raden Ajisaka akan kembali mengambil keris tersebut“.) Pada jaman dahulu amanat tersebut disebut “ Sabda pandita ratu “. Raden Ajisaka meneruskan perjalanannya dengan ditemani oleh salah satu abdinya yaitu Dora.
Read more »